ZhiSideStory

LIVE YOUR LIFE POSITIVELY!

LF Side Story – Hyomi’s Story May 20, 2012

Filed under: Fanfiction,Friendship,One Shoot,Romance — 솜뭉치 @ 11:30 am
Tags: , , ,

annyeongg….sebelumnya mau ngejelasin dulu kalo FF ini BUKAN karangan saya. tapi karangan salah satu dongsaeng ku di LF [Lucky Femme] namanya Sheni Dewi. ini bukan plagiat, saya cuma pengen ngepost FF ini disini karena ceritanya bagus dan main cast nya saya dan suami plus selingkuhan #plakk

sstttt…. ini sebelum ngepost udah minta izin kok saya ^^V

lets check this out!!

 

 

Author: Sheni Dewi

Han Hyomi’s Story

[Before Debut]

Main casts :

Han Hyomi (ZhiYoon Nezious)

Yongbae (Taeyang of Bigbang)

Byunghee (G.O of MBLAQ)

(Semuanya Hyomi’s POV ^^)

* * *

“Uri..haeyojija……” Aku menatap mata namja di depanku dengan mata yang mulai memerah.

“Mwo?!” Terlihat jelas tatapan kaget dan tidak senang dari namja di depanku itu.

“Aku sudah tidak bisa meneruskan hubungan kita lagi. Jjebal, biarkan aku pergi.” Aku berhenti sejenak untuk menjaga suaraku agar tidak terdengar bergetar. Aku harus kuat.

“Mulai sekarang…kita jalani hidup kita masing-masing. Untuk 11 bulan ini…jeongmal gomawo. Ije uri kkeutnata.” Setetes air mata jatuh dari mataku saat aku mengucapkan kalimat terakhir, dengan satu gerakan cepat aku langsung menghapusnya. Aku tidak bisa bertahan di sini lebih lama, melihatnya begitu hancur membuatku juga merasa hancur. Aku baru saja akan meninggalkannya saat tangannya menarikku ke dalam pelukannya.

“Andwae… Khajjima, Hyomi-ya….” Ia berkata sambil memelukku erat. Aku mencoba melepaskan pelukannya. Air mataku tumpah.

“Lepaskan aku…jjebal…” Aku berbisik. Perlahan, ia melepaskan pelukannya dengan tidak rela.

“Apa aku sudah berbuat salah? Aku tidak akan mengulanginya, Hyomi-ya. Jjebal, khajjima…” Ia memohon.

Aku hanya bisa tersenyum lemah, lalu melangkah pergi, meninggalkannya sendiri.

”Mianhae… Yong Bae-ah… Haengbokhaseyo, jjebal…”

 

* * *

 

Aku selalu datang ke sini setiap aku merasa sedih dan kacau seperti sekarang. Duduk di atas pasir putih pantai yang berkilau karena cahaya matahari. Deburan ombak yang terus datang bergiliran itu seperti meredam isak tangisku. Tapi sayang, tidak bisa meredam kesedihanku.

“Jalhaesseo, Hyomi-ya. Jalhaesseo..” Aku berulang kali mengucapkan hal itu pada diriku sendiri, tapi entah kenapa air mataku masih saja mengalir.

“Jalhaesseo, Hyomi-ya. Geuman ulja! Kau tau ia tidak akan bisa melepaskanmu maka kaulah yang harus melepasnya lebih dulu, walaupun dengan cara seperti ini. Ini semua untuknya, demi kebaikannya. Lagipula kau sendiri yang tidak pernah yakin dengan perasaanmu untuknya. Begini lebih baik, jadi ia bisa segera melupakanmu. Geuman ulja, ya neo babo Han Hyomi!” Aku merutuki diriku sendiri. Aku sudah tau pasti akan begini jadinya, tapi aku tidak bisa menemukan cara yang lebih baik dari ini untuk membuatnya pergi dariku. Ia selalu menomor-satukanku, ia tidak pernah mau meninggalkanku, sekalipun ia harus mengorbankan masa depannya.

 

* * *

 

“Hyomi-ya chukahae! Kudengar Yongbaemu berhasil mendapatkan beasiswa ke Amerika?” Lee Eunji, salah satu sahabat baikku, berkata padaku dengan nada gembira.

“Ne?!” Aku kaget, sekaligus senang. Aku tau mendapatkan beasiswa itu sudah menjadi harapan Yongbae sejak lama. Bahkan sebelum kami berpacaran.

“Neon molla? Kabar itu sudah menyebar di seluruh kampus sekarang!” Jawab Eunji heran. Tanpa pikir panjang, aku langsung pergi mencari Yongbae.

“Yongbae!” Aku memanggilnya yang saat itu tengah bercanda dengan teman-temannya.

“O, Hyomi! Waeyo?”

“Kau diterima! Beasiswa itu! Neo ara?!” Kataku bersemangat. Aku pikir aku akan langsung melihat reaksi bahagianya, tapi ia malah hanya menatapku, lama.

“Yongbae? Neo waeyo? Tidak senang?” Aku bertanya heran.

“Aku tidak akan mengambil beasiswa itu.” Katanya, datar, tanpa ekspresi, tapi aku bisa melihat ia tertekan saat mengatakannya.

“Mwo?! Geu- geundae wae?!”

“Geunyang……” Ia berbisik dan menunduk.

“Ige jinjjaya? Kau sudah tau hal ini sejak lama? Kenapa tidak memberitahuku?! Ya, aku tau dirimu, Yongbae-ah, aku tau kau sangat menginginkan beasiswa ini. Lalu kenapa..?” Aku makin heran melihat tatapan matanya yang muram.

“Ani. Aku….tidak menginginkannya lagi.”

“Geotjimal! Aku bisa melihat dengan jelas kebohongan itu dari matamu!” Aku mulai kesal, aku tau betul ia sudah berusaha keras agar bisa mendapat beasiswa ini.

“Aku tidak mau meninggalkanmu. Kalau aku pergi, mungkin aku tidak akan bisa kembali untuk waktu yang sangat lama. 3 tahun, atau lebih. Aku tidak mau melakukannya.” Langit seakan runtuh saat aku mendengar bahwa aku-lah alasan ia menolak beasiswa itu.

“Neo jinjja…. Ya, nan gwaenchana! Ambillah beasiswa itu, beasiswa itu kan obsesimu sejak dulu.” Aku meyakinkannya, dan langsung gagal. Yongbae memang selalu begini, keras kepala.

“Aku tidak akan pergi, apapun alasannya.”

 

* * *

 

Aku memaksanya mengambil beasiswa itu, berkali-kali. Bermacam-macam cara sudah kucoba dan semuanya gagal. Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana ia bisa begitu bodoh untuk melepaskan masa depannya yang cerah hanya untuk seorang wanita. Untukku. Padahal saat itu kami baru berpacaran selama 9 bulan, tapi ia sudah begitu yakin dengan hubungan kami. Seakan-akan aku benar-benar tercipta untuknya. Membuatku merasa semakin bersalah karena aku sendiri belum yakin dengan hubungan kami. Karena aku bahkan ragu aku bisa mencintainya.

Kami sudah berteman sejak masih SMP. Yongbae adalah sahabat terbaikku, kalau aku sedang punya masalah ia pasti selalu ada untukku. Ia mengenalku lebih dari diriku mengenal diriku sendiri. Tanpa harus kuberitahu, entah bagaimana caranya, ia pasti tau bagaimana suasana hatiku. Kakak yang paling pengertian, seperti itulah aku selalu menganggapnya. Namun ternyata ia tidak menganggapku seperti adiknya, tidak juga sekedar sahabat, ia menganggapku lebih dari itu.

Persahabatan kami berjalan seperti biasa saja sampai aku menyukai seorang sunbae di kampusku. Namanya Jung Byunghee. Karena aku sering pergi dan berkumpul bersama Yongbae dan teman-temannya itulah, aku mengenal Byunghee yang merupakan salah satu teman baik Yongbae. Rasa itu muncul tanpa sempat aku sadari dan saat aku sadar, aku sudah benar-benar menyukainya. Ditambah lagi Byunghee dan aku sering kali terlibat di suatu organisasi kampus yang sama, yang membuatku makin sering bertemu dengannya. Byunghee sering kali mengajakku pergi untuk sekedar makan bersama, berdua saja, katanya bicara denganku bisa membuatnya merasa nyaman. Benar-benar membuatku berharap besar padanya.

Hubunganku dan Byunghee sudah benar-benar dekat sampai aku mendengar gosip bahwa ia sudah memiliki kekasih. Aku tidak tau apa gosip itu benar karena ia sama sekali tidak pernah membahas soal wanita yang ia sukai, atau soal kekasih denganku. Aku bahkan tidak berani langsung bertanya pada Byunghee apa gosip itu benar karena terlalu takut mendengar jawabannya. Maka pada suatu kesempatan, aku menanyakan hal itu pada Yongbae.

 

* * *

“Yongbae-ah…” Aku memulai percakapan dengan ragu.

“Ne?”

“Uhm…keugae..”

“Mwoya?” Ia melihatku heran.

“Byunghee..” Ekspresinya berubah saat aku mengucapkan nama itu, membuatku makin takut bertanya. Ia menungguku menyelesaikan kalimatku.

“Kudengar ia sudah punya pacar. Keugae sasiliya?” Akhirnya aku bertanya.

Yongbae menatapku dengan tatapan yang tidak pernah kulihat sebelumnya. Ia tidak menjawabku, hanya diam, seolah-olah jika ia menjawab, jawabannya bisa melukaiku.

“Yongbae? Keugae jinjjaya?” Aku bertanya lagi.

Yongbae melihat ke arah lain dan menarik napas panjang. “Lupakan dia.” Katanya.

“Ne?” Aku kaget mendengar jawabannya.

“Kau kira aku tidak tau kalau kau menyukainya?” Ia menatapku lekat.

“Lupakan saja dia.” Katanya lagi.

Aku tersenyum pahit. “Jadi….gosip itu benar?”

Lagi-lagi ia memalingkan wajahnya. Kurasakan mataku mulai memanas, lalu setetes air mata jatuh dari mataku. Aku mencoba menahan agar tidak ada lagi air mata yang keluar. Tapi dasar memang tidak bisa diatur, air mataku mulai menetes lagi. Ah, apa aku memang sudah menyayanginya sedemikian dalam?

“Ya, ya, Hyomi-ya. Neo ulro? Aish..” Yongbae yang melihatku menangis terlihat salah tingkah dan mengeluarkan sapu tangannya. Aish, memalukkan sekali aku ini.

“Uljima, Hyomi-ya. Jjebal.”

“Hyomi-ya. Geuman ulro, jjebal. Aku benar-benar tidak bisa melihatmu menangis.” Yongbae membujukku.

“Ya, Han Hyomi. Kalau kau menangis seperti ini kau akan membuat orang-orang yang menyayangimu sedih…” Aku tetap masih tidak bisa berhenti menangis.

“Ya! Neo molla?! Kalau kau menangis seperti ini rasanya ada bagian dari diriku yang hancur. Aku merasa tidak berguna karena bahkan menghibur wanita yang kucintai saja aku tidak bisa. Aish!” Ia mengacak-acak rambutnya depresi. Aku terhenyak.

“Mworago…?” Aku menatapnya kaget.

“Neol saranghandago!”

“Ne..?” Aku masih terlalu kaget untuk mencerna apa yang sebenarnya terjadi.

“Neo jinjja molla? Aku sudah menyukaimu, bahkan sejak SMP. Mungkin kau hanya menganggapku sebatas sahabat sampai saat ini, tapi Hyomi, apa kau tidak bisa memberiku kesempatan untuk menjadi lebih dari itu?” Ia bertanya padaku, meluap-luap, seakan ia sedang mengeluarkan beban yang sudah ditanggung hatinya selama bertahun-tahun.

“Neo….. Andwae, Yongbae-ah. Na joha hajima. Neodoo ara, aku menyukai pria lain….” Aku berkata linglung.

“Tidak masalah. Beri aku satu kali saja kesempatan untuk mencoba melenyapkan pria itu dari hatimu. Jjebal..”

 

* * *

 

Mungkin aku terlalu kejam untuk menerimanya saat itu di saat masih ada pria lain di hatiku. Terlalu mendambakan kehangatan yang siap ia berikan kapanpun padaku. Aku benar-benar sudah bersikap egois. Mungkin lebih baik kalau aku memutuskan hubungan kami lebih cepat setelah aku sadar bahwa posisi pria itu tidak bisa digantikan, sekalipun aku tidak pernah lagi berhubungan dengannya.

Aku segera memutuskan semua kontakku dengan Byunghee sejak saat itu. Keluar dari segala organisasi yang memungkinkanku untuk bertemu dengannya. Menghindarinya tiap kali ia mencariku.

Sekarang, setelah 11 bulan kulalui dengan Yongbae, sudah saatnya aku melepaskannya pergi. Membiarkannya menemukan orang lain yang lebih baik dariku, yang bisa mencintainya sepenuh hati. Bukan orang sepertiku, yang menggunakan cintanya hanya untuk melindungi hatiku agar tidak terluka. 11 bulan yang tidak akan kulupakan seumur hidupku, yang telah menunjukkan bagaimana cinta tulus yang sebenarnya.

Tidak mungkin aku tidak sedih karena perpisahan ini, aku akan kehilangan orang yang biasanya selalu ada untukku sejak aku SMP. Tapi bagaimanapun aku tidak mungkin menahannya untuk tetap tinggal disisiku sementara hatiku masih dimiliki orang lain. Tidak mungkin aku menahannya untuk tetap bersamaku dan membiarkannya menyia-nyiakan masa depan cerah yang terbentang di depan matanya.

Yongbae, aku sangat menyayanginya. Tapi rasa sayang itu bukan rasa sayang yang sama dengan rasa sayangku pada Byunghee.

 

* * *

 

Beberapa hari kemudian.

 

From : Yongbae

Han Hyomi, annyeong! Aku sudah memikirkannya. Kurasa aku sudah tau alasanmu memutuskan hubungan kita..

Bagaimanapun, aku sudah memutuskan untuk melakukan seperti yang kau pernah minta.Tenanglah, alasannya bukan karena kau pernah memintanya. Tapi karena aku memang menginginkannya.

Aku akan berangkat ke Amerika. Besok. Jam 8 malam. Terminal XX, tujuan Seattle.

Seharusnya kau bisa datang ke bandara untuk setidaknya mengucapkan selamat tinggal dan semoga berhasil untukku, kan? ^^

 

Di dalam taksi, aku tersenyum membaca SMS yang kemarin kuterima dari Yongbae. Aku tau namja itu pasti akan membuat keputusan yang benar. Sahabatku memang namja yang kuat.

Sesampainya di bandara, aku segera menuju terminal yang diberitahu Yongbae dalam SMS dan mendapatinya sedang duduk di sana.

“O! Hyomi-ya! Kau datang!” Ia berdiri, melangkah ke arahku, dan memelukku. Pelukan seorang sahabat.

“Bagaimana keadaanmu? Kau terlihat aneh.” Katanya, dengan suara riang. Ah, namja satu ini benar-benar aneh. Apa ia sudah benar-benar melupakan kejadian beberapa hari yang lalu?

“Ah, sudahlah. Tidak perlu memasang ekspresi bersalah seperti itu. Nan gwaenchana. Jinjja!” Katanya meyakinkan. Aku melihatnya penuh selidik.

“Keundae..apa aku boleh mendengar alasan kau memutuskan hubungan kita langsung dari mulutmu?” Katanya tiba-tiba.

“Katanya kau sudah tau?” Aku berkata dengan nada sedikit jahil.

“Aku hanya ingin mendengarnya langsung darimu. Sebelum aku berangkat.” Ia berkata serius.

“Arasseo. Pertama, karena kau berkorban terlalu banyak untukku, di saat aku sendiri…..”

“Masih mencintainya?” Ia memotongku.

Aku mengangguk lemah. “Mianhae…”

“Piryeo eobseo. Aku tau perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Lagipula kita masih bisa bersahabat.” Ia tersenyum.

“Ah, aku juga ingin membuat pengakuan.” Katanya lagi. Aku melihatnya penasaran.

“Dulu….. Saat kau bertanya soal Byunghee. Aku berbohong. Ah, ani, aku tidak berbohong, tapi aku juga tidak mengatakan yang sebenarnya.” Ia berkata linglung. Mendengar nama itu, mendadak jantungku berdetak lebih cepat.

“Saat itu… dia tidak memiliki kekasih. Aku hanya sering mendengar ia sedang menyukai seorang yeoja di kampus kita. Aku juga tidak tau siapa yang memulai gosip tentang ia sudah punya kekasih itu. Mianhae. Jeongmal mianhae.” Ia berkata penuh penyesalan. Ah, aku tidak tau perasaan apa yang kurasakan sekarang. Kalau saja dulu aku langsung bertanya padanya…semuanya tidak perlu begini. Aku tidak perlu menyakiti Yongbae seperti ini. Tapi bagaimanapun semua toh kini sudah berlalu, semua sudah terjadi, menyesal tidak akan merubah apapun.

“Mianhae. Seharusnya aku tidak perlu melakukan itu. Entah apa yang merasukiku dulu sampai aku berbuat begitu. Mianhae. Aku benar-benar merasa bersalah. Geundae, bagaimanapun aku juga tidak menyesali hal ini, karena kalau saja dulu aku mengatakan yang sebenarnya, aku tidak mungkin mendapat kesempatan untuk berjuang mendapatkan hatimu. Walaupun hasilnya tetap saja begini, aku tetap tidak menyesal.” Ia tersenyum. Kata-katanya sedikit banyak menghiburku.

“Ah, sebentar lagi aku harus berangkat.” Ia melihat jam tangannya.

“Ah ne, geurae. Berjuanglah di sana! Belajar yang giat, semoga beruntung! Sampai jumpa, chingu-ya!” Aku menyalaminya.

Ia tersenyum, mengambil tas gendongnya dan melangkah menjauh. Tiba-tiba sesuatu menghentikan langkahnya. Handphone-nya berbunyi. Sebuah pesan masuk. Aku juga tidak tau dan tidak ambil pusing mengenai siapa yang mengiriminya SMS yang tiba-tiba membuatnya tersenyum aneh itu.

“Hyomi-ya. Apa kau tidak penasaran dengan siapa gadis yang disukai Byunghee saat itu?” Tiba-tiba Yongbae berbalik dan bertanya padaku dengan senyum aneh itu.

“Ne?” Aku bertanya bingung.

“Setauku ia masih menyukai wanita itu sampai sekarang.” Katanya lagi, tidak menghiraukan kebingunganku.

“Eh?”

“Kau tanyakan langsung saja padanya. Sebentar lagi ia sampai di sini.” Lanjutnya, lalu melangkah pergi, meninggalkan aku dengan kebingungan.

“Hyomi?” Seseorang menepuk bahuku dari belakang.

“….Byunghee?” Aku shock.

“..Neo? Yongbae eodiya?” Ia melihat sekeliling.

“Baru saja masuk.” Aku menunjuk arah Yongbae pergit tadi dengan linglung.

“Aish, geu saram jinjja. Sudah membuatku lari-lari begini dan ia meninggalkan aku begitu saja.” Byunghee mengatur napasnya.

“Neo wae yeogi?” Tanyaku heran.

“Yongbae, dia bilang dia ingin menyerahkan sesuatu yang sangat berharga padaku. Katanya aku harus datang, harus menjaganya dengan baik. Karena ia tidak bisa mempercayai orang lain selain aku soal ini. Apa kau dititipi sesuatu oleh Yongbae untuk diberikan padaku?”

“Ne? Ani.” Aku menggelengkan kepalaku.

“Haish, aneh sekali pria itu.” Ia mengambil handphone nya, berniat menelepon Yongbae, tapi tiba-tiba gerakannya terhenti saat melihat sebuah pesan masuk di handphonenya, yang jelas tidak bisa terlihat olehku. Tiba-tiba ia memandangku dengan aneh dan kembali menatap handphonenya dengan senyum remeh sekaligus kaget, “Yongbae.. Neo.. Jinjja.” Ia menggelengkan kepalanya tidak percaya, memasukkan handphone ke sakunya dan dengan mengejutkan, menarik tanganku.

“Khajja. Kita pulang saja.” Katanya tersenyum, sambil menggandeng tanganku.

“Sesuatu yang ingin diserahkan Yongbae…?”

“Sudah bersamaku.” Jawabnya singkat.

“Ne..?” Aku benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi hari ini, kenapa semua hal membuatku bingung?

Byunghee menghentikan langkahnya, mengarahkan tatapannya padaku, tepat di mataku.

“Neol johahae, Hyomi-ya. Saranghanda.” Dan rasanya langit pun runtuh.

 

* * *

 

From : Yongbae

Kau akan berterima kasih padaku karena sesuatu yang kubilang akan kuserahkan padamu adalah sesuatu yang selalu kau sukai dan cintai. Ah, sebenarnya ia bahkan bukan milikku. Aku tidak memiliki hak apapun untuk menyerahkannya padamu. Bagaimanapun, sebenarnya dari awal hatinya adalah milikmu.

Jaga Hyomi baik-baik. Aku pergi.

 

* * *

END.

Otte?! XD

gomawo Shenwoo-ya buat ff nya yang keren ^^ ❤ ❤ ❤

yang udah baca, comment and like please…

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s